Senin, 09 November 2009

Wonoleloku permai

Senandung masa kecil

Hujan disore ini, meninakbobukkan aku dalam lamunan di beranda depan pawiyatan Siswa Arga . Aku jadi teringat kala ku mulai merangkakkan kaki belajar menapaki tanah dalam rumahku yang ‘ kotor, bau penuh kuman. Mereka sebut ” kasihan sekali merangkak di lahan kotor, “ Mau apa lagi, hanya itu yang kami punya dan orang asuh tuaku punya. Aku tidak jijik pegang tai ayam yang hitam dan bikin kamu mau muntah bahkan enggan untuk ambil piring dan mengangkat tangan untuk sesuap makan. Noktah dikaki kananku kenang-kenangan kebengalanku sewaktu maen didepan luweng simbokku. Hi…hiii…hiiii… rintihku kesakitan menahan perih kulitku yang termakan bara arang merah. “ning aku kan ra salah, wong aku rangerti nek wowo ki panas Mbok “ hi..hi….hiiii…hiiihhhiiii….. ya uwis nak, meneng ngko diobati ben ndang mari. Simbokku selalu ramah, tak pernah marah apalagi suka ceramah.( Koyo kowe..) luka kakiku malah ngoreng, karena tak pernah makan protein.. apalagi obat buatan wong londo , yah Cuma wenyet-wenyet kunir campur ludah Ibuku dan setiap saat ku terima untuk mupuki luka dikakiku. Perih banget… pagi dipupuki…
Sewaktu sore aku belum bersih badan dengan air kali yang sejuk, bening terterawang. Aku asyik bermain dengan bikin bendungan kecil dibelakang rumah. Satu mata air dua mataair ku tambak dan kukumpulkan dalam bendungan.. asyik…asyik….dan hanya seneng dan asyik rasanya.perih kakiku serasa hilang dan sembuh.
Dari dalam rumah Ibuku panggil-panggil namaku dengan nada agak marah, Ndul…. Ndul…. Malah nangdi to, iki wis sore mbok ndang bali…adus-adus….wong sikile loro dolanan neng ngggon banyu… akupun bergegas masuk rumah, roman mukaku takut banget. Baju celanaku basah kuyub terkena air tuk ubal belakang rumah. Seember air hangat telah Simbokku siapkan untuk mandi, Lengkap dengan anduk dan sabun lipboy. Baju Salin pun tak terlupakan celana kolor dengan kaos oblong warna kuning. Asyik aja walaupun kolor tapi bukan kolor ijo atau pakean yang mahal tapi hasil korupsi bapak mu.
Bersambung dihalaman kehidupan berikutnya…









Celoteh ‘ Pak Pung Pak Mus Tape

Pagi yang indah, burung berdendang riang menyambut datangnya sang fajar merekah diufuk timur, aku diajak jalan oleh bapakku, seneng ceria masa kecilku. Kulihat gerobag bermesin penuh orang. Pengin rasanya aku ikut didalamnya, berkeliling menelusuri lorong desaku menuruni bukit menuju pemberhentian dikota sana. Aku sering bertanya “ ada apa dikota sehingga orang banyak selalu ingin menemuinya ?” Mungkin indah dan penuh pesona untuk meninakbobokkan masa kecilku.
Dihari Fitri kali pertama ku diajak menelusuri lorong desa menuju keramaian. Penuh riang kusambut uluran tangan Bapak untuk menaiki tangga gerobak bermesin yang ada didepanku. Kiri kanan hijau, gelombang aspal merah kadang membangunkanku dari lamunan keagungan-Nya. Bapak tiada henti menelurkan kata demi kata sehingga menumpuk dalam kalimat, tak tahu berapa lagi jumlahnya. Sepanjang jalan serasa sepi tak sesesak alam saat ini, ratusan gerobag bermesin itu telah menjadi barang obral, ratusan bahkan ribuan… tak pernah kulintasi dalam benak ini hijau tepi jalan peneduh musafir, burung emprit sepertinya telah wegah berhuni disana , mungkin gerobagmu terlalu berisik, meledak letus sepanjang waktu. “Wis tekan Muntilan Pak ?” tanyaku. Wah isih adoh le…. Piye , seneng to ? kowe iso weruh pemandangan sing beda karo ‘ngalas. Hanya ku jawab “ya” dalam hati. Wah ini pasti sudah dekat dengan kota, sekarang sudah ramai, ada juga kereta ditarik kuda. Malah satu kereta, kadang ditarik dua kuda…. Akhirnya gerobag pun berhenti dipangkalan. Sudah sampai to Pak ? tanyaku. Jawab Bapakku sembari menggandeng tanganku “ Ayo medun Le, saiki wis tekan ..“
Pasar pedesaan yang penuh dengan riuh pedagang jajakan daganganya. Tiada henti aku menanyakan apa yang aku lihat dan belum aku ketahui. Tapi kan aku waktu itu masih kecil dan memang tidak tahu pengalaman, apalagi kota lha wong jagalan wae jarang bahkan sama sekali tak pernah orang tuaku ajak ke sana.
Hari berlalu menjadi bulan dan tahun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar